Menu ✖

Otomatis

Lokal

Karhutla Jambi Belum Padam, Satgas Siapkan Hujan Buatan 10 September: Awan Jadi Penentu

badge-check

Karhutla Jambi Belum Padam, Satgas Siapkan Hujan Buatan 10 September: Awan Jadi Penentu Perbesar

JAMBI — Perlawanan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi memasuki babak baru. Satgas Karhutla Jambi menyiapkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk memanfaatkan potensi awan hujan yang diperkirakan mulai muncul pada 10 September 2026.

Operasi tersebut diarahkan untuk membasahi lahan gambut sekaligus menekan potensi meluasnya karhutla dan mengurangi dampak kabut asap yang mulai mengganggu aktivitas masyarakat.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi sekaligus Sekretaris Satgas Karhutla, Bachyuni Deliansyah, mengatakan pelaksanaan TMC sangat bergantung pada keberadaan awan yang memenuhi syarat untuk dilakukan penyemaian.

Berdasarkan prakiraan BMKG Jambi dan BMKG Pusat, potensi pembentukan awan hujan diperkirakan mulai tersedia pada 10 September.

“Ketika potensi itu muncul, baik di wilayah barat maupun wilayah timur, kita akan langsung lakukan TMC dalam rangka pembasahan lahan,” ujar Bachyuni.

Dua Hari Operasi, Empat Kali Sorti Disiapkan

Operasi TMC direncanakan berlangsung selama dua hari, yakni 10 dan 11 September 2026.

Dalam setiap penerbangan penyemaian, pesawat akan membawa hingga 1 ton garam sebagai bahan untuk proses modifikasi cuaca. Jika kondisi awan memungkinkan, operasi dapat dilakukan hingga dua sorti dalam sehari.

Dengan skenario tersebut, selama dua hari pelaksanaan TMC berpotensi dilakukan sebanyak empat sorti penerbangan.

Namun, jumlah penerbangan bukan satu-satunya penentu keberhasilan operasi. Ketersediaan dan pergerakan awan menjadi faktor utama yang menentukan kapan dan di mana penyemaian dilakukan.

Bukan Asal Tabur Garam, Titik Operasi Mengikuti Awan

Satgas Karhutla tidak menetapkan satu titik penyemaian secara kaku. Lokasi operasi akan bergerak mengikuti keberadaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

Jika potensi awan berada di wilayah timur Jambi, operasi akan diarahkan ke kawasan tersebut. Begitu pula jika kondisi awan lebih memungkinkan di wilayah barat.

“Di mana potensi awannya ada, di situ kita lakukan. Kalau ada di wilayah timur kita lakukan di timur, kalau di barat kita lakukan di barat,” kata Bachyuni.

Strategi tersebut menunjukkan bahwa operasi TMC bukan sekadar penerbangan rutin, melainkan sangat bergantung pada dinamika cuaca di lapangan.

Kabut Asap dan Lahan Gambut Jadi Perhatian

Ancaman karhutla tidak hanya menyangkut api yang membakar vegetasi. Lahan gambut menjadi salah satu perhatian karena ketika terbakar, proses pemadaman dapat menjadi lebih sulit dan menghasilkan asap yang mengganggu kualitas udara.

Karena itu, pembasahan lahan menjadi bagian penting dari strategi pencegahan. Operasi TMC diharapkan dapat membantu meningkatkan curah hujan pada wilayah yang memiliki potensi awan sehingga kondisi lahan menjadi lebih basah dan risiko kebakaran dapat ditekan.

Kondisi kabut asap di Jambi sendiri sebelumnya telah memicu perhatian serius. Sejumlah wilayah bahkan mengalami kualitas udara yang memburuk dan berdampak terhadap aktivitas masyarakat.

10 September Jadi Titik Krusial

Dengan prakiraan munculnya awan hujan mulai 10 September, tanggal tersebut menjadi momentum penting bagi Satgas Karhutla Jambi.

Namun, pelaksanaan TMC tetap tidak bisa dipastikan hanya berdasarkan tanggal. Awan harus tersedia dan memenuhi kondisi yang memungkinkan untuk dilakukan penyemaian.

Artinya, operasi akan sangat bergantung pada pembacaan cuaca secara real time serta pergerakan awan di wilayah Jambi.

Jika potensi awan cukup, Satgas akan bergerak cepat. Sebaliknya, ketika kondisi atmosfer tidak mendukung, penerbangan penyemaian tidak dapat dipaksakan.

Satgas Berpacu dengan Cuaca

Persoalan karhutla Jambi kini bukan hanya bagaimana memadamkan titik api, tetapi juga bagaimana mencegah api baru muncul dan menjaga lahan tetap dalam kondisi basah.

Operasi TMC menjadi salah satu instrumen yang disiapkan pemerintah untuk menghadapi ancaman tersebut.

Namun efektivitasnya akan diuji oleh satu hal: apakah awan yang ditunggu benar-benar muncul dan dapat dimanfaatkan.

Satgas Karhutla Jambi kini bersiap. Pada 10–11 September 2026, pesawat penyemai akan diterbangkan ketika kondisi memungkinkan, dengan sasaran yang dapat berubah mengikuti pergerakan awan di langit Jambi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Read More

Cuaca Jambi 17 Oktober 2026: Udara Kabur Dominasi 11 Kabupaten dan Kota, Warga Diminta Waspada

17 Oct 2026 - 17:21 WIB

Cuaca Jambi 17 Oktober 2026: Udara Kabur Dominasi 11 Kabupaten dan Kota, Warga Diminta Waspada

Karhutla Tahura Orang Kayo Hitam Jadi Perhatian, Al Haris Perkuat Pemadaman dan Pendinginan

17 Oct 2026 - 17:14 WIB

Karhutla Tahura Orang Kayo Hitam Jadi Perhatian, Al Haris Perkuat Pemadaman dan Pendinginan

Pemkot Jambi Buka Seleksi Dewan Pengawas Tirta Mayang 2027–2031, Lulusan S-1 Berpeluang Mendaftar

17 Oct 2026 - 17:06 WIB

Pemkot Jambi Buka Seleksi Dewan Pengawas Tirta Mayang 2027–2031, Lulusan S-1 Berpeluang Mendaftar

ADA APA DENGAN MUARO JAMBI? KPK TURUN, BUPATI DIPANGGIL RAPAT KHUSUS PERBAIKAN TATA KELOLA

15 Oct 2026 - 07:52 WIB

ADA APA DENGAN MUARO JAMBI? KPK TURUN, BUPATI DIPANGGIL RAPAT KHUSUS PERBAIKAN TATA KELOLA

70 Jerigen Solar Subsidi Disita di Sungai Penuh, Tiga Orang Jadi Tersangka

15 Oct 2026 - 06:43 WIB

70 Jerigen Solar Subsidi Disita di Sungai Penuh, Tiga Orang Jadi Tersangka
Trending on Hukum