ENREKANG, JEJAK LENTERA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Latimojong, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, belum juga padam setelah berlangsung selama tujuh hari. Kobaran api dilaporkan terus meluas di sepanjang jalur pendakian, sementara asap tebal membumbung dari kawasan hutan yang terbakar.
Situasi ini menambah kekhawatiran terhadap keselamatan lingkungan dan aktivitas masyarakat di sekitar kawasan pegunungan tersebut. Titik kebakaran dilaporkan berada di jalur merah melalui Dusun Angin-angin, dengan area terdampak mencapai Pos 4, Pos 5, hingga Pos 6.
Informasi tersebut disampaikan Sunardi, pemandu wisata Gunung Latimojong, sebagaimana diberitakan detikSulsel, Minggu (18/10/2026).
Menurut Sunardi, api kembali terlihat pada Minggu (11/10/2026) dan terus menyebar ke sejumlah titik di jalur pendakian.
Lokasi yang dilaporkan mengalami kebakaran paling parah berada di sekitar Pos 5 jalur merah melalui Dusun Angin-angin. Kepulan asap tebal menjadi indikasi bahwa penanganan kebakaran masih menjadi persoalan serius di kawasan tersebut.
Api Meluas di Tengah Kondisi Hutan Kering
Kebakaran yang berlangsung berhari-hari memperlihatkan besarnya tantangan dalam menjaga kawasan hutan dari ancaman api, terutama ketika vegetasi mengering pada musim kemarau.
Dalam kondisi seperti ini, kebakaran berpotensi meluas apabila sumber api belum sepenuhnya dikendalikan. Asap yang membumbung juga menjadi tanda bahwa kawasan terdampak masih memerlukan perhatian dan pemantauan.
Namun, luas keseluruhan kawasan yang terbakar serta perkembangan terakhir proses pemadaman belum dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia dalam laporan tersebut.
Karena itu, pembaruan kondisi lapangan dan langkah penanganan dari pihak berwenang menjadi penting untuk mengetahui sejauh mana kebakaran dapat dikendalikan.
Jalur Pendakian Gunung Latimojong Ditutup
Ancaman karhutla turut berdampak pada aktivitas pendakian Gunung Latimojong. Jalur pendakian telah ditutup sejak akhir Agustus 2026 setelah kebakaran sebelumnya terjadi di kawasan Puncak Pentialloan.
Sunardi menjelaskan, warga setempat menolak pembukaan kembali jalur pendakian selama kondisi masih rawan. Selain adanya sejumlah titik kebakaran, kondisi hutan yang kering juga dinilai meningkatkan risiko bagi para pendaki.
Penutupan tersebut menjadi langkah pencegahan untuk menghindari risiko keselamatan di jalur pendakian yang terdampak kebakaran.
Camat Buntu Batu, Jasmin, membenarkan bahwa jalur pendakian Gunung Latimojong ditutup sementara hingga waktu yang belum ditentukan.
Menurutnya, pembukaan jalur akan mempertimbangkan perkembangan situasi, termasuk kondisi musim dan tingkat keamanan kawasan.
Keselamatan Hutan dan Pendaki Menjadi Prioritas
Gunung Latimojong merupakan kawasan pegunungan yang menjadi tujuan pendakian sekaligus memiliki nilai penting bagi lingkungan. Kebakaran yang berlangsung lama menjadi pengingat bahwa perlindungan kawasan hutan membutuhkan pengawasan dan upaya pencegahan yang konsisten.
Masyarakat dan calon pendaki diimbau mematuhi penutupan jalur serta tidak memaksakan perjalanan ke kawasan yang masih berisiko. Informasi resmi dari pemerintah setempat dan pihak pengelola perlu menjadi acuan sebelum melakukan aktivitas di sekitar lokasi.
Pencegahan kebakaran juga harus diperkuat, terutama dengan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu api di kawasan hutan. Kelalaian kecil dapat menimbulkan dampak besar ketika api menyebar di wilayah dengan vegetasi kering dan akses pemadaman yang terbatas.
Hingga laporan mengenai kebakaran tujuh hari tersebut diterbitkan, kondisi Gunung Latimojong masih menjadi perhatian. Perkembangan pemadaman, luas area terdampak, dan waktu pembukaan kembali jalur pendakian tetap menunggu informasi lebih lanjut dari pihak berwenang.
JEJAK LENTERA — Menerangi Jejak Kebenaran.



















