Menu ✖

Otomatis

Kesehatan

Teknologi Neurorestorasi Buka Harapan Baru Pascastroke, Dari TMS hingga Brain Computer Interface

badge-check

Teknologi Neurorestorasi Buka Harapan Baru Pascastroke, Dari TMS hingga Brain Computer Interface Perbesar

JAKARTA, JEJAK LENTERA — Harapan pemulihan bagi pasien stroke terus berkembang seiring kemajuan teknologi kedokteran. Salah satu pendekatan yang kini mendapat perhatian adalah neurorestorasi, metode yang berupaya memaksimalkan kemampuan jaringan saraf yang masih sehat untuk membantu mengambil alih fungsi yang terganggu akibat kerusakan otak.

Pendekatan tersebut bertumpu pada konsep neuroplastisitas, yakni kemampuan sistem saraf untuk beradaptasi, membentuk koneksi baru, dan mengatur kembali fungsi setelah mengalami cedera.

Dalam pengembangannya, teknologi Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) menjadi salah satu metode yang digunakan. Teknologi ini memberikan stimulasi elektromagnetik pada area tertentu di otak untuk membantu merangsang jaringan saraf yang masih berfungsi.

Dokter spesialis saraf konsultan neurorestorasi, dr. Retno Jayantri Ketaren, Sp.N F. Neurorestorasi, menjelaskan bahwa sasaran terapi bukanlah jaringan otak yang sudah mengalami kematian akibat stroke.

Menurutnya, perhatian diarahkan pada jaringan di sekitar area yang mengalami kerusakan dan masih memiliki kemampuan untuk menjalankan fungsi tertentu.

Dengan demikian, proses pemulihan tidak semata-mata menunggu jaringan yang rusak kembali seperti semula. Sistem saraf yang masih sehat justru diharapkan dapat membangun pola kerja baru untuk membantu mengembalikan fungsi tubuh pasien.

Rehabilitasi Tetap Menjadi Bagian Penting

Neurorestorasi tidak berdiri sendiri. Terapi stimulasi saraf tetap perlu berjalan bersama program rehabilitasi yang disesuaikan dengan kondisi pasien.

Stroke dapat meninggalkan berbagai gangguan, mulai dari kelemahan anggota tubuh, gangguan komunikasi, hingga kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari.

Karena itu, fisioterapi dan rehabilitasi neurologis tetap menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.

Penggabungan stimulasi seperti TMS dengan latihan rehabilitasi secara rutin dilaporkan dapat membantu proses adaptasi saraf. Pada pasien dengan gangguan bahasa atau afasia, misalnya, pendekatan tersebut ditujukan untuk membantu kemampuan komunikasi kembali secara bertahap.

Faktor usia dan kondisi klinis pasien tetap menjadi bagian yang harus diperhatikan. Kemampuan neuroplastisitas dapat ditemukan juga pada usia lanjut, meski proses adaptasinya dapat berlangsung lebih kompleks.

Teknologi BCI Mulai Dikembangkan

Perkembangan teknologi juga membawa pendekatan lain melalui Brain Computer Interface (BCI).

Teknologi ini memungkinkan sinyal atau aktivitas otak diterjemahkan menjadi perintah bagi perangkat tertentu. Konsep tersebut membuka peluang bagi pasien dengan kelumpuhan berat yang mengalami kesulitan menggerakkan anggota tubuhnya.

Secara sederhana, sistem BCI berupaya menerjemahkan niat seseorang untuk melakukan gerakan menjadi perintah yang dapat diterima perangkat.

Pengembangan BCI bahkan dapat dipadukan dengan kecerdasan buatan, teknologi realitas virtual, serta perangkat robotik untuk mendukung proses rehabilitasi.

Sel Punca Masih Terus Dikembangkan

Selain stimulasi otak dan BCI, penelitian mengenai sel punca atau stem cell juga menjadi bagian dari perkembangan teknologi neurorestorasi.

Terapi sel punca dikembangkan dengan harapan dapat mendukung proses regenerasi jaringan saraf pusat. Namun, pendekatan tersebut masih berada dalam tahap pengembangan dan penelitian sehingga penerapannya membutuhkan pembuktian serta pengawasan medis yang ketat.

Kemajuan teknologi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pasien stroke tidak lagi hanya bertumpu pada satu metode. Kombinasi antara penanganan medis, rehabilitasi, stimulasi saraf, teknologi digital, dan riset regeneratif terus dikembangkan untuk memperluas peluang pemulihan fungsi pasien.

Bagi pasien dan keluarga, perkembangan ini menjadi bagian dari harapan baru. Namun, setiap terapi tetap harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien dan dilakukan berdasarkan penilaian tenaga medis yang kompeten.

JEJAK LENTERA — Menerangi Jejak Kebenaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Read More

Kualitas Udara Jambi Memburuk, Kabut Asap Kembali Jadi Ancaman Kesehatan

4 Oct 2026 - 15:39 WIB

Kualitas Udara Jambi Memburuk, Kabut Asap Kembali Jadi Ancaman Kesehatan

Viral Usus Bermotif Kulit Macan, Dokter Ungkap Bahaya di Balik Penyalahgunaan Obat Pencahar

3 Oct 2026 - 09:11 WIB

Viral Usus Bermotif Kulit Macan, Dokter Ungkap Bahaya di Balik Penyalahgunaan Obat Pencahar

Kembali Menekan Jambi, Sekolah TK hingga SMP Dipaksa Beralih ke Daring

16 Sep 2026 - 09:26 WIB

Kembali Menekan Jambi, Sekolah TK hingga SMP Dipaksa Beralih ke Daring

431 Santri Dirawat Diduga Keracunan MBG, Ponpes Manbaul Hikam Bantah Makanan Diolah di Pesantren

2 Sep 2026 - 08:36 WIB

431 Santri Dirawat Diduga Keracunan MBG, Ponpes Manbaul Hikam Bantah Makanan Diolah di Pesantren

Gempa NTT Belum Usai, Danone dan PMI Kerahkan Rp1 Miliar serta 53 Ribu Botol Air untuk Korban

29 Aug 2026 - 07:33 WIB

Gempa NTT Belum Usai, Danone dan PMI Kerahkan Rp1 Miliar serta 53 Ribu Botol Air untuk Korban
Trending on Kesehatan