SIDOARJO — Sebanyak 431 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur, harus mendapatkan perawatan setelah diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peristiwa tersebut menjadi sorotan karena jumlah santri yang terdampak cukup besar. Para santri dilaporkan mengalami sejumlah keluhan kesehatan hingga harus mendapatkan penanganan medis.
Namun, pihak Pondok Pesantren Manbaul Hikam membantah informasi yang menyebut makanan MBG tersebut diolah di lingkungan pesantren.
Pihak pesantren menegaskan bahwa proses pengolahan makanan tidak dilakukan oleh pihak pondok. Bantahan ini disampaikan di tengah upaya mencari tahu sumber makanan yang diduga menyebabkan ratusan santri mengalami gangguan kesehatan.
Kasus tersebut kini menjadi perhatian karena meliputi pelaksanaan program MBG yang menyasar anak-anak dan pelajar. Keamanan, kualitas bahan makanan, proses pengolahan, hingga distribusi makanan menjadi aspek penting yang perlu dipastikan.
Dengan jumlah korban mencapai ratusan orang, investigasi terhadap penyebab kejadian menjadi penting untuk memastikan apakah gangguan kesehatan tersebut benar-benar berkaitan dengan makanan MBG atau terdapat faktor lain.
Pihak yang berwenang diharapkan segera melakukan pemeriksaan terhadap sampel makanan, bahan baku, serta proses pengolahan dan distribusinya.
Hasil pemeriksaan diharapkan dapat mengungkap penyebab kejadian pasti sekaligus memastikan tidak ada pihak yang dirugikan akibat kelalaian dalam penyelenggaraan program pangan bergizi tersebut.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa program MBG tidak hanya menyediakan kebutuhan gizi, tetapi juga harus memenuhi standar keamanan pangan, kebersihan, pengolahan, penyimpanan, dan distribusi yang ketat.



















