**JAKARTA —** Aktivitas penerbangan nasional mulai bergerak menuju pemulihan setelah terganggu hebat akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Enam bandara yang sebelumnya terdampak kini kembali dibuka, namun maskapai tidak serta-merta mengembalikan seluruh jadwal penerbangan seperti kondisi normal.
Enam bandara yang kembali beroperasi adalah **Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara Bandung, Budiarto Tangerang, Pondok Cabe Tangerang Selatan, serta Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam**.
Soekarno-Hatta mulai kembali beroperasi pada Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 00.30 WIB. Halim Perdanakusuma menyusul sekitar pukul 00.40 WIB, sementara Husein Sastranegara kembali dibuka sekitar pukul 00.42 WIB.
Bandara Budiarto dan Pondok Cabe masing-masing kembali beroperasi sekitar pukul 01.25 WIB dan 01.28 WIB. Sementara Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam telah lebih dahulu kembali beroperasi sejak Senin pagi.
Meski pintu bandara telah dibuka, **pemulihan penerbangan tetap dilakukan secara bertahap**. Maskapai harus memastikan kondisi pesawat, landasan, ruang udara, serta jalur penerbangan benar-benar aman sebelum menerbangkan kembali penumpang.
### Abu Vulkanik Masih Jadi Ancaman
Pembukaan bandara dilakukan setelah otoritas penerbangan melakukan evaluasi terhadap kondisi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. AirNav Indonesia juga masih memantau perkembangan sebaran abu di wilayah udara yang dapat memengaruhi keselamatan penerbangan.
Abu vulkanik menjadi ancaman serius bagi pesawat karena dapat mengganggu mesin dan sistem penerbangan. Karena itu, status bandara tidak hanya ditentukan dari kondisi landasan, tetapi juga mempertimbangkan perkembangan ruang udara.
AirNav menegaskan pemantauan terhadap aktivitas vulkanik dan sebaran abu terus dilakukan. Informasi aeronautika akan diperbarui mengikuti perkembangan kondisi dan hasil evaluasi keselamatan.
### Maskapai Mulai Umumkan Penerbangan
Seiring dibukanya kembali sejumlah bandara, maskapai mulai menyusun kembali jadwal penerbangan. Garuda Indonesia, misalnya, mengumumkan dimulainya kembali layanan penerbangan dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta secara bertahap mulai Selasa dini hari.
Namun, setiap penerbangan tetap harus melewati penilaian keselamatan dan pemeriksaan kelaikudaraan pesawat terkait kemungkinan dampak abu vulkanik.
Kondisi ini membuat penumpang tidak bisa serta-merta menganggap seluruh penerbangan telah normal hanya karena bandara kembali beroperasi.
Maskapai masih harus menyesuaikan jadwal, pesawat, kru, serta rute penerbangan yang sebelumnya terganggu akibat penutupan sejumlah bandara.
### Tiga Bandara Masih Ditutup
Di tengah pembukaan enam bandara tersebut, sejumlah bandara masih belum dapat melayani penerbangan.
Tiga bandara yang masih berstatus ditutup adalah **Bandara Radin Inten II Lampung, Bandara Muhammad Taufiq Kiemas di Lampung, serta Bandara Salakanagara Tanjung Lesung di Pandeglang**.
Status operasional ketiga bandara tersebut masih menunggu evaluasi lebih lanjut terhadap kondisi sebaran abu vulkanik dan faktor keselamatan penerbangan.
Sebelumnya, pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah bandara alternatif untuk menjaga konektivitas nasional selama gangguan penerbangan berlangsung. Enam bandara yang disiapkan antara lain Juanda, Adi Soemarmo, Yogyakarta, Adisutjipto, Jenderal Ahmad Yani, dan Kertajati.
### Penumpang Diminta Tidak Berangkat Sebelum Ada Kepastian
Kondisi penerbangan pasca-erupsi masih dinamis. Karena itu, penumpang yang memiliki jadwal penerbangan pada Selasa (8/9/2026) disarankan mengecek kembali status penerbangannya melalui maskapai sebelum menuju bandara.
Pembukaan bandara menjadi sinyal positif bagi pemulihan konektivitas udara nasional. Namun, normalisasi penerbangan diperkirakan tidak berlangsung seketika.
**Keselamatan tetap menjadi faktor utama.**
Artinya, meski landasan kembali dibuka, penerbangan hanya akan dijalankan setelah maskapai dan otoritas penerbangan memastikan kondisi memungkinkan.
Dengan demikian, berakhirnya penutupan enam bandara bukan berarti krisis penerbangan akibat erupsi Anak Krakatau sepenuhnya berakhir. Pemulihan masih berlangsung dan sangat bergantung pada pergerakan abu vulkanik serta hasil evaluasi keselamatan penerbangan.























