NEWS | JAMBI — Kualitas udara di Jambi kembali menjadi perhatian. Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga meningkatkan risiko terhadap kesehatan masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi alarm bagi warga untuk lebih waspada terhadap paparan polusi udara, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.
Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jambi menyebut kualitas udara telah masuk kategori tidak sehat ketika Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menembus angka 101. Angka tersebut menunjukkan kondisi udara mulai memberikan dampak bagi kesehatan masyarakat.
Kondisi udara di Jambi juga tercatat mengalami fluktuasi. Pada akhir Agustus 2026, DLH Kota Jambi melaporkan ISPU sempat berada di angka 158 dan masih masuk kategori tidak sehat. Masyarakat pun diminta meningkatkan kewaspadaan serta menyesuaikan aktivitas di luar ruangan dengan kondisi udara.
Kabut Asap Tak Bisa Dianggap Biasa
Persoalan kualitas udara di Jambi tidak dapat dilepaskan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah.
Pergerakan angin turut menentukan penyebaran asap. Kondisi ini membuat kualitas udara dapat berubah dalam waktu relatif cepat, bahkan ketika titik kebakaran berada di luar wilayah perkotaan.
Dampaknya mulai terasa dalam kehidupan masyarakat. Aktivitas di luar ruangan menjadi lebih berisiko, sementara sekolah dan fasilitas publik harus mempertimbangkan kondisi udara sebelum menjalankan kegiatan normal.
Pemkot Jambi sebelumnya bahkan memperpanjang pembelajaran jarak jauh sebagai langkah antisipasi ketika kualitas udara berada pada kategori sangat tidak sehat dan fluktuatif.
Warga Diminta Tidak Abaikan Kondisi Udara
DLH mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap kabut asap sebagai persoalan biasa.
Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker juga menjadi langkah perlindungan, terutama ketika tingkat pencemaran udara telah meningkat.
Persoalan ini menjadi semakin penting karena dampak polusi udara tidak selalu dirasakan secara langsung. Paparan asap dan partikulat dalam waktu tertentu dapat meningkatkan risiko gangguan pada sistem pernapasan.
Di tengah kondisi tersebut, pemantauan kualitas udara dan penanganan sumber asap menjadi dua hal yang tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.
Masyarakat membutuhkan informasi kualitas udara yang cepat dan akurat, sementara pemerintah dituntut memastikan sumber pencemaran, termasuk potensi karhutla, ditangani secara serius.
Bagi Jambi, kabut asap bukan sekadar persoalan jarak pandang. Ketika udara yang dihirup masyarakat mulai masuk kategori tidak sehat, persoalannya berubah menjadi ancaman kesehatan publik yang membutuhkan respons cepat dan terukur.





















