NEWS | KERINCI — Festival Kopi Kerinci Tanah Surga 2026 resmi berakhir. Dua hari penuh aroma kopi, kreativitas, kompetisi, UMKM, hingga seni budaya menutup rangkaian festival yang digelar di Lapangan M10, Lindung Jaya, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, 19–20 September 2026.
Penutupan festival dilakukan Bupati Kerinci Monadi pada Minggu (20/9/2026). Ajang ini tidak sekadar menjadi ruang menikmati kopi, tetapi juga mempertemukan petani, barista, pelaku usaha, komunitas kopi, UMKM dan masyarakat untuk menunjukkan potensi kopi Kerinci dari hulu hingga hilir.
Salah satu perhatian utama dalam festival tersebut adalah berbagai kompetisi yang menguji kualitas biji kopi, keterampilan penyeduhan, kemampuan mencicipi hingga kreativitas mengembangkan produk turunan kopi.
Dari sejumlah kategori yang dipertandingkan, nama-nama pemenang pun diumumkan.
Greenbean Arabica
Juara pertama diraih Deka Mulia dari Desa Pauh Tinggi.
Juara kedua ditempati Rio Apriadi dari Desa Kersik Tuo, sedangkan juara ketiga diraih Busri, juga dari Desa Pauh Tinggi.
Greenbean Robusta
Untuk kategori Greenbean Robusta, Deka Mulia dari Desa Pauh Tinggi kembali keluar sebagai juara pertama.
Posisi kedua diraih Idris Hermawan dari Desa Jernih Jaya, sementara juara ketiga ditempati Santi Ali dari Sungai Penuh.
Greenbean Liberika
Kompetisi Greenbean Liberika menempatkan Adelia dari Jambi sebagai juara pertama.
Juara kedua diraih Yani Nurmayani dari Sungai Terap, Tanjung Jabung Barat, sedangkan juara ketiga diraih Martono dari Sarolangun.
Manual Brewing
Di kategori Manual Brewing, posisi juara pertama diraih Frenki.
Juara kedua ditempati M. Irvan, sementara Galan Dwi Andika meraih juara ketiga.
Cup Taster
Kompetisi Cup Taster menempatkan Rahma sebagai juara pertama.
Posisi kedua diraih Frasetiawan, dan juara ketiga diraih Zanka Sari.
Hilirisasi Kopi
Sementara pada kategori Lomba Hilirisasi Kopi, G Royal Coffee berhasil meraih juara pertama.
Juara kedua diraih Kopi Datok/Cascara Kerinci, sedangkan juara ketiga ditempati Rahma Putri.
Festival ini juga menghadirkan atraksi unik berupa penyajian 3.805 gelas kopi gratis. Angka tersebut bukan tanpa makna, karena 3.805 merepresentasikan ketinggian Gunung Kerinci yang mencapai 3.805 meter di atas permukaan laut.
Bupati Kerinci Monadi menegaskan bahwa kopi tidak hanya berbicara tentang biji dan cita rasa. Di dalamnya terdapat cerita mengenai tanah, alam, petani, budaya, kreativitas hingga kerja keras masyarakat.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong agar kopi Kerinci tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi terus dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan memiliki daya saing.
Festival juga membuka ruang bagi generasi muda untuk mengambil peran lebih luas dalam ekosistem kopi, mulai dari barista, roaster, pelaku usaha, pemasaran digital, desain produk hingga inovasi kopi.
Dari sisi ekonomi, Pemerintah Provinsi Jambi melihat festival tersebut sebagai salah satu pintu untuk mempertemukan petani dan pelaku usaha dengan pasar yang lebih luas, sekaligus membuka peluang investasi dan memperkuat hilirisasi komoditas kopi.
Kini, setelah panggung Festival Kopi Kerinci 2026 ditutup, tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana membuat festival berlangsung meriah.
Lebih jauh, bagaimana aroma kopi dari kaki Gunung Kerinci mampu bergerak dari kebun petani menuju pasar yang lebih luas—membawa nilai tambah, membuka peluang usaha, dan mengangkat nama Kerinci melalui secangkir kopi.
Dari Tanah Surga Kerinci, cerita kopi belum selesai. Justru baru dimulai.

















