NEWS | JAKARTA — Penampakan usus dengan pola menyerupai kulit macan belakangan menarik perhatian publik. Gambaran tersebut bukan sekadar fenomena visual, melainkan dapat menjadi tanda perubahan pada lapisan usus yang berkaitan dengan penggunaan obat pencahar atau laksatif secara berlebihan.
Dalam dunia medis, kondisi tersebut dikenal sebagai melanosis coli. Kondisi ini ditandai dengan munculnya pigmentasi berwarna cokelat hingga kehitaman pada mukosa usus besar sehingga pada pemeriksaan kolonoskopi dapat terlihat seperti pola kulit macan.
Fenomena tersebut menjadi sorotan setelah gambar penampakan usus dengan pola khas itu beredar di media sosial. Kondisi tersebut kemudian dikaitkan dengan laxative abuse, yakni penggunaan obat pencahar secara berlebihan atau tidak sesuai peruntukannya.
Bukan Sekadar Masalah Sembelit
Laksatif pada dasarnya digunakan untuk membantu mengatasi konstipasi atau sembelit. Namun, penggunaan dalam jangka panjang tanpa pengawasan medis dapat menimbulkan persoalan tersendiri.
Salah satu kelompok laksatif yang diketahui berkaitan dengan melanosis coli adalah laksatif yang mengandung senyawa antrakuinon. Senyawa tersebut dapat merangsang pergerakan usus sehingga buang air besar menjadi lebih mudah.
Masalah muncul ketika obat pencahar digunakan secara berlebihan, termasuk untuk tujuan menurunkan berat badan.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga mengingatkan bahwa bahan seperti daun jati cina atau senna mengandung sennosida yang bekerja sebagai laksatif. Bahan tersebut kerap disalahgunakan dalam produk pelangsing, meski fungsi utamanya berkaitan dengan membantu mengatasi gangguan buang air besar.
Mengapa Usus Bisa Berubah Warna?
Melanosis coli terjadi akibat akumulasi pigmen pada sel-sel tertentu di lapisan usus. Literatur medis menjelaskan bahwa penggunaan laksatif antrakuinon dapat berkaitan dengan proses kematian sel epitel usus dan kemudian terbentuknya akumulasi pigmen pada makrofag.
Akibatnya, permukaan bagian dalam usus dapat terlihat memiliki bercak-bercak gelap dengan pola yang menyerupai kulit macan saat diperiksa menggunakan kolonoskopi.
Meski tampilannya cukup mengkhawatirkan, melanosis coli sendiri tidak otomatis berarti seseorang mengalami kanker usus. Kondisi tersebut perlu dinilai berdasarkan keseluruhan kondisi pasien dan penyebab yang mendasarinya.
Kebiasaan Mengonsumsi Pencahar Perlu Diwaspadai
Penggunaan obat pencahar seharusnya tidak dilakukan sembarangan, terlebih jika tujuannya bukan untuk mengatasi indikasi medis.
Fenomena penyalahgunaan laksatif untuk menurunkan berat badan menjadi perhatian karena obat pencahar bekerja terutama pada proses pengeluaran isi usus, bukan membakar lemak tubuh.
Karena itu, perubahan angka timbangan setelah penggunaan pencahar tidak dapat disamakan dengan hilangnya lemak tubuh.
Masyarakat yang mengalami sembelit berulang juga sebaiknya tidak menjadikan obat pencahar sebagai solusi jangka panjang tanpa mencari penyebabnya.
Jangan Abaikan Gangguan Pencernaan
Sembelit yang berlangsung terus-menerus dapat memiliki berbagai penyebab, mulai dari pola makan, kurang aktivitas fisik, kurang asupan cairan hingga kondisi medis tertentu.
Penggunaan obat pencahar secara terus-menerus tanpa evaluasi dokter justru dapat menutupi persoalan yang sebenarnya.
Jika keluhan sembelit menetap, muncul nyeri perut berat, perdarahan saat buang air besar, penurunan berat badan yang tidak direncanakan atau perubahan pola buang air besar yang menetap, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Fenomena “usus kulit macan” pada akhirnya menjadi pengingat bahwa obat pencahar bukan jalan pintas untuk mendapatkan tubuh ideal. Penggunaan obat tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan medis dan, bila diperlukan, berada di bawah pengawasan tenaga kesehatan.
Jejak Lentera — Mengawal informasi, menyalakan fakta.























