MERANGIN, JEJAK LENTERA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di Kabupaten Merangin. Kawasan Bukit Telasih, Desa Pasar Muara Siau dan Desa Teluk Sikumbang, Kecamatan Muara Siau, dilanda kebakaran dengan luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai 10 hektare .
Kondisi medan yang berada di kawasan perbukitan terjal membuat penanganan kebakaran tidak mudah. Sejumlah titik api sulit dijangkau kendaraan pemadaman dari darat sehingga pemadaman kebakaran membutuhkan dukungan dari udara.
Bupati Merangin M. Syukur turun langsung meninjau lokasi kebakaran. Dalam kunjungan tersebut, ia meminta masyarakat menghentikan sementara seluruh aktivitas membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
“Panas cuaca saat ini luar biasa sekali. Tolong kepada masyarakat jangan ada yang membakar-membakar lahan, apa pun penghentian sementara ini hentikan dulu,” ujar M. Syukur, Jumat (18/9/2026).
Menurutnya, pembakaran lahan dalam kondisi cuaca panas dapat memperbesar risiko kebakaran yang meluas. Terlebih lagi, karakter kawasan Bukit Telasih yang terjal membuat petugas menghadapi keterbatasan dalam menjangkau titik api.
Pemadaman dari udara pun dikerahkan. Tim gabungan mendapat bantuan helikopter pemadam dari BNPB Provinsi Jambi untuk melakukan operasi water bombing ke sejumlah titik yang sulit disentuh dari darat.
Operasi penyiraman udara menggunakan helikopter Sikorsky UH60A berlangsung pada Kamis siang, sekitar pukul 12.00 hingga 14.40 WIB. Upaya tersebut dilakukan bersama unsur pemerintah, aparat keamanan dan masyarakat yang bergotong royong menangani kebakaran.
Api Sempat Padam, Kembali Menyala
Kebakaran di Bukit Telasih bukan kejadian yang muncul sekali pun. Api pertama kali terdeteksi pada 6 September 2026 . Setelah berhasil berhasil dipadamkan, kebakaran kembali muncul pada 12 September dan kemudian meluas hingga wilayah Desa Teluk Sikumbang.
Kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa ancaman karhutla belum berakhir. Apalagi kondisi cuaca panas dan kawasan dengan vegetasi yang mudah terbakar dapat mempercepat penyebaran api.
M. Syukur menegaskan, masyarakat harus menghentikan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.
“Kalau sudah terjadi begini, kita semua harus repot, apalagi di daerah bukit seperti ini peralatan kita terbatas untuk dijangkau,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa warga yang kedapatan melakukan pembakaran lahan dapat ditindak tegas.
Ribuan Titik Panas, Ribuan Hektare Terbakar
Ancaman karhutla di Merangin merupakan bagian dari permasalahan yang lebih luas di Provinsi Jambi.
Data BNPB yang dikutip detikSumbagsel mencatat hingga 16 September 2026 , luas lahan terbakar di Provinsi Jambi mencapai 3.048,68 hektare , tersebar di sembilan kabupaten dan dua kota.
Pada periode yang sama, akumulasi hotspot sepanjang 2026 tercatat mencapai 8.602 titik . Bahkan pada 16 September saja, terdapat 449 hotspot dalam pemantauan pukul 00.00–16.00 WIB.
Dampaknya tidak hanya terhadap tutupan lahan. Kabut asap juga melaporkan masih mengkhawatirkan sejumlah wilayah Jambi, termasuk Merangin.
Kebakaran Bukit Telasih dengan demikian bukan sekedar persoalan api yang harus dipadamkan. Ia menjadi pengingat bahwa pencegahan jauh lebih penting ketika medan, cuaca dan keterbatasan akses membuat penanganan kebakaran semakin berat.
Pemerintah daerah kembali meminta masyarakat untuk tidak mengambil jalan pintas dengan membakar lahan. Sebab ketika api sudah membesar, yang dipertaruhkan bukan hanya lahan, tetapi juga keselamatan warga, kualitas udara dan lingkungan yang menjadi ruang hidup bersama.





















