JAMBI — Musim kemarau mulai meninggalkan luka serius bagi petani di Provinsi Jambi. Kekeringan yang berlangsung selama dua bulan terakhir membuat puluhan hektare lahan sawah mengalami gagal panen (puso), sementara ribuan hektare tanaman padi lainnya sudah masuk kategori rusak.
Data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Provinsi Jambi mencatat sedikitnya 53 hektare lahan padi mengalami puso. Kondisi tersebut menjadi bagian dari dampak kekeringan yang diperparah fenomena El Nino.
Kepala UPTD Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Dinas TPHP Provinsi Jambi, Darmawansyah, mengatakan kerusakan tanaman terjadi di sejumlah wilayah.
Yang paling besar tercatat di Kabupaten Batanghari, khususnya Kecamatan Bathin XXIV. Di daerah tersebut, sekitar 23,25 hektare tanaman padi dinyatakan puso.
Ribuan Hektare Sawah Sudah Rusak
Ancaman terhadap produksi pangan Jambi tidak berhenti pada lahan yang gagal panen.
Dari total 7.659,73 hektare luas tanaman padi sawah pada periode tanam tersebut, tercatat 1.851,18 hektare mengalami kerusakan ringan, 1.313,18 hektare rusak sedang, dan 559,47 hektare rusak berat.
Artinya, tekanan kemarau telah menjalar jauh lebih luas dibanding angka lahan yang sudah dinyatakan puso.
Sejumlah daerah menjadi titik paling terdampak. Di Tebo, misalnya, dari 458,75 hektare lahan yang ditanami padi, sebanyak 167,75 hektare rusak ringan, 115,5 hektare rusak sedang, 57,5 hektare rusak berat, dan 16,75 hektare mengalami puso.
Di Muaro Jambi, kerusakan juga cukup besar. Dari 1.375,27 hektare lahan sawah, sebanyak 518,30 hektare rusak ringan, 154,50 hektare rusak sedang, 317,54 hektare rusak berat, dan 10 hektare mengalami puso.
Air Menjadi Persoalan Utama
Pemerintah mencoba meredam dampak kekeringan dengan menyiapkan pompanisasi untuk wilayah yang masih memiliki sumber air.
Namun, upaya tersebut tidak mudah diterapkan di daerah yang mengalami kekeringan ekstrem.
Pasokan air yang terbatas membuat pompa tidak selalu menjadi solusi. Ketika sumber air ikut mengering, petani praktis menghadapi situasi yang jauh lebih sulit: tanaman membutuhkan air, sementara cadangan air semakin menipis.
Darmawansyah menyebut data tersebut merupakan laporan kondisi se-Provinsi Jambi hingga akhir Agustus 2026. Penanganan telah dilaporkan kepada Kepala Dinas TPHP Provinsi Jambi dan upaya intervensi dilakukan melalui bidang prasarana dan sarana pertama.
Bayang-Bayang Krisis Produksi
Gagal panen puluhan hektare menjadi sinyal keras bahwa kemarau bukan lagi sekadar persoalan cuaca bagi petani Jambi.
Di balik angka 53 hektare lahan puso, terdapat tanaman yang gagal dipanen, biaya produksi yang terancam tidak kembali, serta pendapatan petani yang ikut tertekan.
Lebih mengkhawatirkan, luas tanaman yang mengalami kerusakan mencapai ribuan hektare. Jika kekeringan terus berlanjut dan pasokan air tidak segera pulih, kerusakan tanaman berpotensi semakin meluas.
Kemarau kini bukan hanya membuat tanah retak. Bagi sebagian petani Jambi, musim kering telah berubah menjadi ancaman nyata terhadap hasil panen dan keberlangsungan usaha pertanian.
























