JOMBANG – Peta persaingan kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin menarik perhatian. Nama KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin , Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, semakin mencuat sebagai salah satu kandidat kuat dalam bursa Ketua Umum PBNU.
Menguatnya nama Gus Kikin terjadi setelah Menteri Agama dipastikan tidak ikut dalam pencalonan Ketua Umum PBNU. Perubahan peta tersebut membuat perhatian warga Nahdliyin semakin mengingatkan pada sejumlah tokoh yang dinilai memiliki dasar kuat di lingkungan pesantren.
Gus Kikin disebut memiliki modal kultural yang kuat. Ia merupakan pengasuh Pesantren Tebuireng, salah satu pesantren bersejarah yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari , pendiri Nahdlatul Ulama.
Selain posisi tersebut, pengalaman Gus Kikin dalam mengelola lembaga pendidikan berbasis pesantren juga menjadi salah satu faktor yang membuat namanya diperhitungkan dalam bursa kepemimpinan PBNU.
Gus Kikin Hadapi Petahana
Jika benar-benar maju dan mendapatkan dukungan yang cukup, Gus Kikin berpotensi menjadi salah satu penantang serius bagi KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya , yang saat ini masih menjabat sebagai Ketua Umum PBNU.
Gus Yahya sendiri disebut masih memiliki dasar dukungan yang kuat setelah menjalankan sejumlah program transformasi organisasi selama masa kepemimpinannya.
Kehadiran Gus Kikin pun membuat persaingan pucuk pimpinan PBNU diperkirakan semakin dinamis.
Namun, proses pemilihan Ketua Umum PBNU tetap akan mengikuti mekanisme yang terjadi dalam Muktamar NU. Oleh karena itu, menguatnya nama dalam bursa belum otomatis berarti kandidat tersebut akan terpilih.
Muktamar NU Jadi Penentu
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Forum tersebut menjadi momentum penting bagi NU untuk menentukan arah kepemimpinan organisasi pada masa mendatang. Muktamar mengusung tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa.”
Persaingan para kandidat juga tidak hanya mencakup popularitas. Dukungan struktural, legitimasi kultural, rekam jejak serta kemampuan mencakup berbagai kelompok di internal NU menjadi faktor yang dapat menentukan arah pemilihan.
Dengan tidak majunya Menteri Agama dalam bursa, kemunculan Gus Kikin menjadi perkembangan baru yang berpotensi mengubah peta persaingan.
Kini perhatian warga Nahdliyin memperingatkan pada satu pertanyaan: apakah Gus Kikin benar-benar akan menjadi penantang utama Gus Yahya dalam perebutan kursi Ketua Umum PBNU?























